De Britto Super Forum

Silakin login atau mendaftar terlebih dahulu di De Britto Super-Forum Very Happy

Sejarah SMA Kolese De Britto

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Sejarah SMA Kolese De Britto

Post by berak di siang bolong on Tue 28 Jun 2011, 12:46


Suasana SMA Kolese De Britto di Kidul Loji

SMA yang lebih dikenal dengan nama de Britto atau “JB” (kependekan dari Johanes de Britto) ini mempunyai sejarah yang cukup panjang. Bermula dari suatu kebutuhan mendesak waktu itu. Sesaat setelah pemerintah pendudukan Jepang mencabut peraturan yang melarang pihak swasta mendirikan sekolah, para Bruder CCI bersama suster-suster Carolus Borromeus dan Fransiskanes mendirikan sebuah sekolah menengah katolik, setingkat SMP. Untuk menampung lulusan SMP itulah dirasa mendesak adanya sebuah sekolah menengah atas yang bersendikan asas-asas katolik. Atas persetujuan bersama Yayasan Kanisius di bawah pemimpin Romo Djojoseputro dengan para romo Jesuit dan para suster Carolus Borromeus didirikanlah Sekolah Menengah Atas Kanisius, yang dibuka secara resmi pada tanggal 19 Agustus 1948. Murid angkatan pertama adalah campuran putra-putri berjumlah 65 orang. Waktu itu tempatnya menumpang di ruang atas SMP Bruderan Kidul Loji.Tidak lama setelah diresmikan, jabatan pemimpin sekolah yang semula (untuk sementara) dipegang Romo B. Sumarno, S.J. diserahkan kepada Romo R. van Thiel, S.J. Karena situasi sosial politik yang ada, sekolah yang baru berlangsung lima bulan itu akhirnya bersama-sama sekolah lain ditutup karena clash kedua tentara Belanda pada tanggal 18 Desember 1948.

Setelah keadaan tenang, persiapan untuk mulai mengadakan kegiatan sekolah segera dilaksanakan. Bagian putri sudah bisa memulai kegiatan sekolah lagi pada bulan Agustus 1949, sedangkan bagian putra baru dapat dibuka pada bulan Oktober 1949, mengingat banyak pemuda yang baru pulang dari medan perang. Ketika sekolah dibuka kembali, bagian putra dan putri mulai dipisahkan. Bagian putra yang kemudian menempati gedung di Jalan Bintaran Kulon 5 ini diasuh oleh para romo Jesuit, dan memakai nama SMA Santo Johanes De Britto. Bagian putri di bawah asuhan para suster Carolus Borromeus, menempati gedung di Jalan Sumbing 1 (sekarang Jalan Sabirin). Mereka memakai nama SMA Stella Duce yang berarti Bintang Penuntun.

Pada tanggal 9 Juni 1953, oleh Pembesar Serikat Jesus di Roma, nama SMA Santo Johanes De Britto diubah menjadi SMA Kolese De Britto. Perkembangan senantiasa terjadi seiring dengan berjalannya waktu. Tidak hanya pergantian pengurus dan staf pemimpin, tetapi juga perkembangan yang menyangkut jumlah murid, ruang kelas, pembenahan administrasi, termasuk perpindahan gedung sekolah. Pilihan lokasi jatuh di daerah Demangan. Peletakan batu pertama tanda dimulainya pembangunan gedung baru dilakukan oleh Mgr. A. Sugijapranata, S.J. yang waktu itu menjabat Vikaris Apostolik Semarang. Pada bulan Mei 1958 SMA Kolese De Britto dipindahkan ke Demangan. Sekolah menempati kompleks gedung yang luas dan dilengkapi dengan lapangan olah raga, aula, ruang-ruang laboratorium, dan lain-lain. Lokasi sekolah inilah yang kemudian lebih dikenal dengan alamat Jalan Laksda Adisucipto 161 Yogyakarta.

Karena pemerintah mengeluarkan peraturan yang melarang orang berkewarganegaraan asing mengajar di sekolah dasar dan menengah, pada permulaan tahun ajaran baru, 1 Agustus 1960, Romo P.F.C. Teeuwisse, S.J. yang masih WNA diganti oleh direktur baru, Romo Th. Koendjono, S.J. Dua tahun kemudian tepatnya 1 Agustus 1962 kepengurusan SMA Stella Duce yang semula masih disatukan dengan SMA Kolese De Britto, resmi diserahkan kepada Yayasan Tarakanita, sedangkan SMA Kolese De Britto tetap diasuh oleh Yayasan De Britto yang secara ex officio diketuai oleh romo Jesuit sebagai rektor kolese.
Semenjak awal perkembangannya SMA Kolese De Britto sebagai suatu kolese, lembaga pendidikan yang dikelola Jesuit senantiasa mengalami keterbatasan / kekurangan tenaga Jesuit. Salah satu jasa Romo Schoonhoff, S.J. sebagai rektor kolese (mulai tahun 1956) adalah kegigihannya mempertahankan SMA Kolese De Britto ketika hendak ditutup sebagai kolese dan kemudian akan diserahkan kepada awam. Alasan penyerahan kepada awam adalah karena pada waktu itu tidak tersedia cukup tenaga Jesuit untuk diserahi tugas di SMA. Salah satu argumen yang diajukan Romo Schoonhoff, S.J. kepada Pater Jenderal (pemimpin Jesuit tertinggi) di Roma adalah bahwa dari SMA Kolese De Britto ini setiap tahun ada beberapa eks alumnusnya yang mendaftar ke seminari. Di samping itu, ada fakta yang tidak boleh diabaikan, yaitu bahwa dari kolese ini sudah banyak dihasilkan imam baik Jesuit maupun Projo atau tarekat lain. Selain Romo G. Schoonhoff, S.J. Bapak L. Subiyat juga merupakan tokoh yang sangat berjasa dalam memperjuangkan kelangsungan SMA Kolese De Britto sebagai sebuah kolese.

Ketika Romo Th. Koendjono, S.J. menjadi direktur / kepala sekolah (1962-1964) diangkatlah kedisiplinan menjadi tuntutan kerja dan sikap hidup sehari-hari, tidak hanya untuk siswa, tetapi juga semua pihak yang terlibat dalam pendidikan di kolese. Kerja sama dengan awam sedikit demi sedikit dikembangkan. Kerja sama itu tidak hanya dalam arti berhubungan baik supaya awam mau bekerja lebih tekun, tetapi semakin menempatkan awam sebagai partner yang setara dalam pengelolaan sekolah. Sayangnya Romo Th. Koendjono, S.J. tidak lama bertugas karena mendapat tugas baru dari Pemimpin Serikat Jesus. Tahun 1964 Romo Th.Koendjono, S.J. sebagai direktur diganti oleh seorang awam, yaitu Bapak C. Kasiyo Dibyoputranto. Serikat Jesus semakin menyadari pentingnya kerja sama yang sederajat dengan awam. Sejak itu hingga sekarang, jabatan direktur / kepala sekolah selalu dipegang oleh awam. Ciri kolese di mana ada Jesuit di dalamnya dipertahankan dalam jabatan rektor (yang sekaligus menjadi ketua yayasan) dan jabatan pamong.

Pergantian rektor kolese senantiasa juga membawa perubahan-perubahan. Romo R. van Thiel, S.J. yang menjabat sebagai rektor, ketua yayasaan, dan sekaligus direktur sekolah pada tahun 1956 diganti oleh Romo G. Schoonhoff, S.J. Selanjutnya, Romo G. Schoonhoff, S.J. diganti oleh Romo L. Moerabi, S.J. sampai akhir tahun 1972. Mulai tahun ajaran 1973 jabatan rektor dipegang oleh Romo J. Oei Tik Djoen, S.J. Pada saat itulah di SMA Kolese De Britto dicanangkan pendidikan bebas. menerima pendapat yang Konsep pendidikan bebas ini merupakan jawaban terhadap keadaan masyarakat yang kurang bisa berbeda dari pendapat umum, khususnya sekitar tahun 1960-1970. Masyarakat lebih mementingkan penampilan luar daripada motivasi dari dalam. Para pendidik di SMA Kolese De Britto merasa bahwa para siswa harus mampu berpendapat sendiri. Keberhasilan pendidikan bebas itu tidak bisa dilepaskan dari peran empat serangkai, yaitu Romo J. Oei Tik Djoen, S.J., Romo G. Koelman, S.J., Bapak C. Kasiyo Dibyoputranto, dan Bapak L. Subiyat. Empat serangkai itu pada tahun 1971 diperkuat oleh Bapak Chr. Kristanto yang diangkat menjadi wakil kepala sekolah dan Bapak G. Sukadi yang banyak berperan dalam kegiatan siswa.

Tidak dapat disangkal bahwa selanjutnya salah satu daya tarik dari sistem pendidikan di SMA Kolese De Britto adalah udara dan nuansa kebebasan itu. Hal itu kadang memang hanya ditangkap pada permukaannya saja sehingga kesan sesaat seperti “urakan” menjadi label tambahan bahkan untuk sebagian siswa label itu malahan menjadi ciri yang dibanggakan. Ekses pemahaman itu sebagai dekonstruksi terhadap nilai-nilai yang diterima masyarakat menjadi warna dan predikat yang kadang diterima sebagai bagian dari identitas pendidikan di SMA Kolese De Britto. Dalam proses pendidikan sendiri orang sering mudah mengaburkan sikap malas atau mau cari enaknya sendiri dengan kebebasan. Oleh sebab itu, ketika Romo H. van Voorst tot Voorst, S.J. menjabat rektor (1978 – 1984), pendidikan bebas tetap jalan, tetapi disertai dengan petunjuk-petunjuk konkret sehingga dapat ditanggulangi dampak negatif yang telah muncul. Kepada para siswa ditekankan bahwa pelaksanaan kebebasan senantiasa harus disertai dengan kesadaran akan tanggung jawab yang harus melekat pada kebebasan itu. Bertanggung jawab bukan hanya berarti dapat memberikan alasan. Bertanggung jawab berarti bahwa tindakannya dimotivasikan oleh nilai yang benar dan sesuai dengan dirinya sebagai manusia yang dikasihi Allah.

Pada pertengahan tahun 1984 Romo G. van Delft, S.J. menggantikan Romo H. van Voorst S.J. sebagai rektor dan Romo J. Handriyanto Wijaya, S.J. menggantikan Romo T. Suyudanta, S.J. sebagai pamong. Saat itulah kepemimpinan di SMA Kolese De Britto dilaksanakan secara kolegial antara rektor, direktur, dan wakilnya, serta pamong. Romo rektor merupakan pemimpin dan penanggung jawab karya, sebagai instansi banding tertinggi. Direktur merupakan pemimpin dan penanggung jawab jalannya sekolah. Romo pamong menjadi penanggung jawab pembinaan siswa.

Pada awal tahun ajaran 1987-1988 Romo G. van Delft, S.J. diganti Romo I. Haryoto, S.J. Pada saat yang sama Romo J. Handriyanto Wijaya, S.J. sebagai pamong juga diganti oleh Romo G. Sabdo Utomo, S.J. Bagi Romo Sabdo, jabatan pamong di SMA Kolese De Britto merupakan yang kedua kalinya. Kali ini Romo Sabdo sebagai pamong didampingi oleh Romo Titus Prayitno Cokrodirdjo,S.J. Pada masa kepemimpinan Romo I. Haryoto, S.J. mulailah dibuat rumusan-rumusan tugas secara jelas dan dipisahkan secara tegas urusan sekolah dengan urusan (komunitas) pastoran. Masa jabatan pamong paling panjang yakni sembilan tahun dilaksanakan oleh Romo Y. Moerti Yoedho Koesoemo, S.J. antara 1992-2001, yang menata pengelolaan kegiatan siswa dan ekstrakurikuler. Bukan merupakan peristiwa yang spektakuler, tetapi layak juga dicatat dalam sejarah SMA Kolese De Britto, bahwa mulai tahun ajaran 1987-1988 SMA Kolese De Britto mengangkat beberapa guru wanita. Hadirnya guru-guru wanita ini diharapkan dapat memberikan suasana baru dalam proses pendidikan dan pembentukan pribadi para siswa.

Tahun 1990 Romo I. Haryoto digantikan oleh Romo Y. Subagya, S.J. yang melanjutkan membuat rumusan tugas masing-masing penanggung jawab urusan sekolah. Pada tahun 1992 Romo Y. Subagya, S.J. membangun gedung baru, yaitu gedung perpustakaan dan laboratorium, lengkap dengan segala peralatannya. Mulai 1993 direksi dikembangkan dengan satu jabatan baru yakni wakil kepala sekolah urusan administrasi dan keuangan, Bapak Th. Soemardjo sebagai pejabat pertama. Dengan demikian kepala sekolah dibantu oleh tiga wakil kepala sekolah yang mengurus kurikulum, administrasi & keuangan, dan kesiswaan/pamong. Tahun 1997 Romo Y. Subagya, S.J. diganti oleh Romo F. Susilo, S.J. Salah satu perhatian Romo F. Susilo, S.J adalah tertib administrasi. Sistem anggaran (RAB) untuk keperluan sekolah mulai diberlakukan. Mulai 4 Januari 2005 Romo F. Susilo, S.J diganti oleh Romo J. Ageng Marwata, S.J.

Dalam usianya yang sudah lebih dari setengah abad, SMA Kolese De Britto tetap diminati banyak lulusan SMP dari berbagai kota di seluruh nusantara. Tahun 2002 pihak yayasan dan direksi mulai merancang master plan pembangunan SMA Kolese De Britto, bukan saja sarana gedung, melainkan juga kurikulum pendidikan, supaya mampu menjawab kebutuhan zaman, mengantar para siswa untuk mempersiapkan masa depan mereka. Tahun 2004-2005 SMA Kolese De Britto mulai menerapkan kurikulum 2004, dengan kelas X (sepuluh) sebanyak 7 ruang kelas. Tahun ajaran 2005-2006 SMA Kolese De Britto mulai membuka kembali jurusan bahasa (setelah sepuluh tahun tidak membuka jurusan bahasa), melengkapi dua jurusan yang sudah ada, yaitu IPA dan IPS. SMA Kolese De Britto tetap hanya menerima siswa putra, namun jumlah peminat setiap tahunnya tetap melimpah. Kapasitas ruang kelas yang ada senantiasa terpenuhi.
avatar
berak di siang bolong
JB Enthusiast
JB Enthusiast

Nationality : Uruguay
Jumlah posting : 20
Reputation Reputation : -3
Points : 27
Join date : 08.06.11

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik